Harian Wijaya - Aktual dan Berimbang

Lamteng : Sebuah unggahan yang membahas jual beli foto Gubernur dan Wakil gubernur,Bupati dan Wakil bupati viral di tiktok,di bicarakan di media sosial.

 
Seorang pengguna tiktok menyebut banyak warganet memberikan tanggapan yang beragam melalui kolam komentar di tiktok.
 
Pengunggah menyatakan komentar tersebut lalu menimbulkan pro dan kontra warga net lainnya.
 
@wayanmekar Kami usaha photo digital Umkm,harusnya setiap kecamatan bisa beli di toko terdekat tentunya akan lebih murah jangan di monopoli.tulis akun ini
 
@Rajanya Spill OOTD Jadi Sekarang pada taukan DANA BOS kenapa kelihatannya yang diterima banyak tapi kok cepat habis.! ya karena banyak barang-barang dituntut harus beli dan melalui oknum oknum yang menjual degan harga menjerit di mar up place misal beli produk A normal 500k eh dijual sama oknum bisa 2x lipat, gini Guru yang dituduh korupsi keterlaluan.
tau ga.? Guru gaji pas pasan banget mana suka Nalangin kalau mau beli sesuatu karna Dana bos habis.tulis akun ini.
 
@BN77 Coboy : Alangkah nemennya jual foto gub…? Tulis akun ini
 
Lalu Pantaskah foto di jual belikan di sekolah dan instansi pemerintah yang harga nya sangat pantastik..?
 
Di beritakan sebelumnya
Terkait Jual Beli foto pejabat negara, baik Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung serta Bupati dan Wakil Bupati Lampung Tengah yang diduga diakomodir Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Tengah tak mendapatkan respon dari Ardito Wijaya selaku Bupati Lampung Tengah.
 
Pasalnya, saat media ini meminta tanggapan melalui pesan Whatshapp, Bupati Lamteng Ardito Wijaya hanya membalas ucapan terima kasih.
 
“Siap. Terima Kasih,” Ujarnya.
 
Dugaan Pengondisian Penjualan Foto Pejabat Negara baik foto Gubernur dan wakil Gubernur Lampung maupun foto Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lampung Tengah oleh dinas pendidikan Kabupaten Lampung Tengah ke sekolah – sekolah disinyalir tidak mengindahkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD TA 2025.
 
Pasalnya, penjualan foto pejabat tersebut dijual dengan tidak mengikuti standar harga. Dari data yang dihimpun media ini. Satu pasang foto Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung dijual dengan harga Rp. 300.000 dan foto Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lampung Tengah dengan harga yang sama Rp. 300.000.
 
Yang lebih mengherankan, seluruh sekolah di Kabupaten Lampung Tengah baik SD maupun SMP memesan barang tersebut dengan satu vendor.
 
Menurut keterangan Sukis Ketua MKKS SMP Kabupaten Lampung Tengah, terkait Pengondisian pembelian foto tersebut pihaknya tidak ikut campur. Dirinya dipanggil dinas pendidikan dan dipertemukan dengan vendor terkait penjualan foto pejabat tersebut.
 
“Waktu itu saya dipanggil sama orang dinas, dan ketemu sama rombongan tim 02. Nah awalnya mereka meminta harga Rp.500.000 sepasang. Otomatis saya tolak lah. Akhirnya sepakat dengan harga Rp 300.000” terang Sukis.
 
Sementara salah satu kepala sekolah di lingkup Pemkab Lampung Tengah yang enggan namanya disebutkan mengeluhkan harga jual yang ditawarkan tersebut, sebab tambahnya jika hanya mengganti foto seharusnya tidak mahal.
 
“Kalau cuma ganti foto aja kan ga mahal mas. Kan bingkai masih ada. Tapi namanya kolektif ya harus beli,” ujarnya
 
Terkait hal tersebut, saat dikonfirmasi Dr. Ahmaludin, S.Ag. M.M. Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Kabupaten Lampung Tengah menyangkal hal terkait Pengondisian pembelian foto pejabat negara tersebut.
 
Dirinya mengungkapkan, terkait penjualan foto pejabat negara tersebut dinas pendidikan Kabupaten Lampung Tengah tidak melakukan intervensi. Pihaknya hanya didatangi oleh tim 02 terkait hal penjualan tersebut.
 
“Kami tidak mengondisikan terkait penjualan foto itu. Kami hanya memfasilitasi tim 02 dengan pihak sekolah. Kalau masalah beli itu udah urusan masing-masing sekolah.” Kilahnya.
 
Sementara saat dikonfirmasi media ini melalui pesan Whatshapp Rahmat Mirzani Djausal, S.T, M.M. Gubernur Lampung menyarankan kepada kepala sekolah agar dapat membeli sendiri perihal foto Gubernur dan Wakil Gubernur untuk menghemat biaya.
 
“Emang berapa sih mereka jual? Kalau bisa enaknya buat sendiri aja kan lebih murah,” ujar RMD
 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *