Harian Wijaya - Aktual dan Berimbang

BANDARLAMPUNG – Tanpa mengenyampingkan nama-nama potensial untuk maju yang telah bermunculan di kanal pemberitaan, penulis berani untuk mengambil kesimpulan di awal bahwa siapapun nama-nama kandidat tersebut, jika berhadapan dengan sosok ini, maka akan menemukan lawan yang kuat.

Tulisan ini secara khusus membahas sosok Jihan Chalim yang hasil dari analisa penulis memiliki peluang kemenangan yang besar jika dirinya ikut tampil sebagai kandidat dalam Pilgub Lampung 2024 akhir tahun ini.

Sebelum menjabarkan secara mendalam alasan-alasan mengapa Jihan berpeluang menang, ingatlah sebuah adegium “Jangan melawan orang berduit dan perempuan cantik”. Apabila dalam pertarungan terjadi vis-à-vis antara si berduit melawan si cantik, maka hanya ada dua kemungkinan.

Si berduit menang dengan penuh babak belur (baca: ongkos yang sangat tidak masuk akal) dan si cantik kalah dengan penuh perlawanan atau kemungkinan kedua, si cantik keluar sebagai pemenang, dengan si berduit tetap menghabiskan ongkos politik yang sudah tidak masuk akal.

Jika diartikan sesederhana mungkin, kandidat yang penulis istilahkan dengan si cantik, secara emosional akan lebih mendapat simpatik di masyarakat kita. Ada semacam “Penempatan” tersendiri di masyarakat kita dalam melihat sosok yang dianggapnya memiliki

kelebihan dalam paras atau penampilan. Apalagi jika tampilan tersebut identik dengan simbol-simbol religius.

Asumsi ini didukung oleh hasil riset terbaru mengenai preferensi politik pemilih muslim Indonesia kontemporer melalui metode eksperimen survei (Wasisto R. Jati, 2024). Hasil riset ini memiliki beberapa temuan kunci yaitu kandidat perempuan yang berpenampilan religius

mendapat dukungan terbesar dibandingkan kandidat dengan citra lainnya.

Latar belakang pendukung kandidat perempuan yang berpenampilan agamis ini adalah para pemilih yang

memiliki preferensi agama yang kuat, kelompok pemilih yang lebih terbuka pada pandangan egaliter gender, dan pemilih yang lebih terbuka pada agenda sekuler.

Data-data tersebut diartikan bahwa segmen pemilih atau cakupan calon pemilih lebih luas dan beragam. Terbukti bahwa alasan psikologis masih menjadi alasan kuat bagi seseorang dalam menentukan pilihan. Bagi penulis, temuan di atas dapat dilihat sebagai keuntungan atau bisa ditransformasikan sebagai modal tersendiri dalam kontestasi pertarungan elektoral.

Temuan tersebut juga menjadi alternatif pembanding bagi kita yang lebih suka secara latah menyimpulkan kunci kemenangan hanya dapat diraih sekedar melalui praktik politik uang. Seolah melalui praktik politik uang, dapat mempengaruhi secara dominan pilihan pemilih.

Dataset yang dimiliki oleh Burhanuddin Muhtadi menunjukkan bahwa tingkat toleransi terhadap praktik politik uang di Lampung yaitu sebesar 40,4 persen jauh di atas rata-rata nasional. Tetapi alasan memilih kandidat tertentu karena diberikan uang jauh lebih kecil.

Data secara nasional, strategi pembelian suara hanya mempengaruhi 10 persen pemilih. Artinya, diberikan atau tidak diberikan uang, pemilih telah memiliki pilihan dengan berbagai alasan. Tetapi memang praktik ini walaupun kecil tingkat efektivitasnya, menjadi semacam “dilema tahanan” bagi para kandidat.

Dalam kerangka ini, semua kandidat akan diuntungkan apabila tidak ada yang melakukan praktik

politik uang. Jika ada salah satu kandidat yang melakukan, maka akan merugikan yang lain. Sehingga kandidat berfikir untuk melakukan praktik tersebut jika kandidat lain melakukan hal yang serupa.

Bagaimanapun pemilihan secara langsung adalah perhelatan yang membutuhkan ongkos politik yang tak sedikit. Siapapun yang berniat maju dalam kontestasi namun tidak memiliki kecukupan dana, ia masih bisa bergantung hanya pada elektabilitas.

Elektabilitas yang tinggi memungkinkan seseorang menarik pihak donatur untuk menyumbang guna kepentingan sosialisasi atau kampanye. Jika seseorang menginginkan untuk maju dalam kontestasi sementara tidak ditunjang oleh elektabilitas yang memadai serta pula tidak memiliki dana yang cukup, maka lebih baik berfikir berkali-kali untuk maju.

Untuk meningkatkan elektabilitas, kandidat atau tim berlomba-lomba menangkap informasi atau kehendak di masyarakat. Namun yang terjadi adalah sering tidak bisa membedakan antara kebutuhan atau selera. Ada yang coba mencitra diri mengikuti kebutuhan masyarakat namun gagal. Mengapa demikian? karena tidak terjadi “kesatuan frekuensi” antara si aktor pemberi dengan pihak penerima informasi.

Kebutuhan masyarakat barangkali hanya sampai pada tatanan ideal. Sebagai contoh dari kebutuhan: mengentas kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, atau memberantas korupsi. Sementara itu, selera lebih pada bentuk menyesuaikan diri dengan kehendak luas. Cenderung lebih pada perasaan, maka sering dalam beberapa kasus dianggap tidak lebih logis.

Silahkan tanya alasan masyarakat kita dalam memilih.

Akan dominan kita mendengar karena ganteng, cantik, tegas, merakyat, amanah, atau semacamnya. Sehingga siapapun kandidat yang mampu mengemas diri atau lebih tercitrakan pada selera masyarakat, setidaknya akan lebih mudah untuk diterima dan lebih besar peluang dirinya untuk dipilih.

Tidak semua orang bisa memiliki modal pribadi melalui citra diri yang telah terbangun sejak awal secara alamiah. Terlebih lagi jika didukung dengan modal sosial melalui jejaring atau kultural yang dimiliki dan mengakar kuat. Jihan memiliki itu semua.

Siapa yang bisa membantah bahwa Jihan merepresentasikan generasi muda, cantik, muslim kosmopolit – identik sebagai muslimah perkotaan dan tetap bisa masuk dalam segmen muslim tradisional. Berlatar belakang profesi dokter yang identik sebagai sosok pengayom, mengakar secara kuat ke-NU-annya baik kultural atau jejaring politik, serta yang terpenting telah teruji pernah ikut kontestasi pemilihan dengan medan tempur seluruh wilayah Provinsi Lampung dan dua kali juga menang telak dibandingkan calon lainnya dengan perolehan suara fantastis.

Data segmen usia pemilih Provinsi Lampung pada 2024 ini tidak jauh berbeda dengan nasional. Sebanyak 50 persen pemilih yang nanti akan berpartisipasi dalam Pilgub berasal dari kelompok gen Z dan milenial. Pada kontestasi yang baru saja lewat, perolehan suara Capres-cawapres di Lampung untuk pasangan Prabowo-Gibran unggul telak 69,15 persen.

Salah satu faktor kemenangan pasangan ini dikarenakan ketepatan dalam membaca selera masyarakat. Sehingga program yang dikemas mampu diterima oleh khalayak dan tersebar secara organik.

Terjadi keselarasan antara aktor dalam hal ini kandidat, pesan, segmen mayoritas pemilih.

Terbukti Istilah gemoy yang melekat di Prabowo dan Gibran sebagai representasi anak muda dapat diafirmasi dan diterima oleh pemilih. Hasilnya, gen Z dan milenial adalah penyumbang suara terbanyak pasangan ini. Generasi dengan pemilik entitas suara terbanyak ini hanya membutuhkan alasan-alasan simple, sederhana, “ngeklik”, “mengena” dalam memilih.

Mereka cenderung hanya melihat pada apa yang tergambarkan dan “dekat dengan dirinya”.

Hal tersebut juga bisa menjawab faktor kemenangan fantastis Jihan Chalim pada pertarungan di DPD tahun 2019 dan 2024. Pemilih Jihan bisa sangat tinggi bahkan merupakan

rekor suara terbesar di kepemiluan Provinsi Lampung karena selain memaksimalkan jaring sosial yang membantunya (Baca: mesin politik PKB dan NU), dirinya juga memiliki pemilih yang memilih karena faktor sosok Jihan itu sendiri.

Mari kita lihat perolehan suara pada pemilu kali ini. Bila kita ingin membaca suara mesin politik Jihan, coba lihat total perolehan suara PKB se-Lampung untuk DPR RI yaitu 579.246 suara. Untuk di Dapil Lampung 2, kakak kandungnya, Chusnunia Chalim meraih total 143.428 suara. Sementara suara Jihan di Dapil Lampung 2 sendiri meraih 358.134 suara dengan total perolehan se-lampung berhasil 910.318 suara.

Suara Jihan cenderung stabil dan bahkan naik lebih dari 10 persen dibanding Pemilu 2019 sebelumnya. Ini yang menjelaskan modal personal Jihan sendiri sangat membantu.

Penulis juga coba untuk membandingkan antara perolehan suara di DPD dan Pilgub 2018 yang lalu.

Pasangan pemenang Pilgub Arinal-Nunik meraih 1.548.506 suara dengan total kandidat empat pasang. Sisi lain, dengan total 17 kandidat, perolehan suara Jihan di Pemilu 2024 ini lebih dari setengahnya total pemilih Arinal-Nunik. Mengapa hal ini perlu disampaikan meskipun secara langsung tidak berkaitan, karena kontestasi elektoral ini memiliki kesamaan yaitu sama-sama menampilkan foto kandidat.

Pemilih kita di Provinsi Lampung ini telah familier dengan wajah Jihan. Secara popularitas, minimal Jihan setidaknya mampu membuntuti atau bahkan bisa

melampaui Arinal dan Nunik ataupun kandidat yang dianggap berpotensi lainnya.

Kandidat seringkali terjebak pada pemikiran klasik bahwa modalitas yang dimiliki mampu memberikan semacam “legitimasi politik” kemudian menganggapnya secara otomatis menjadi suara dalam ranah politik elektoral.

Seperti dengan pernah menjabat sebagai kepala daerah sebelumnya, memiliki jabatan atau posisi di ranah publik, pimpinan partai politik, atau pengalaman masa lalu sebelumnya yang menurutnya bisa menjadi bekal dalam berkontestasi.

Sedangkan hal ini sudah tidak relevan di tengah arena pertarungan politik yang siapapun kandidat bisa dikemas sedemikian rupa melalui cara-cara marketing politik apalagi jika didukung oleh mekanisme kerja tim yang terkontrol dan bergerak berdasarkan pembacaan situasi atau pun kondisi medan tempur yang dinamis.

Dalam setiap peperangan elektoral selalu memiliki

momentumnya tersendiri. Ketepatan pembacaan atas situasi semakin mendekatkan menuju arah kemenangan. Ini yang menjelaskan kesetiaan elektoral pemilih kita lemah. Ingatlah proses terpilihnya Ridho Ficardo dan di periode berikutnya sebagai inkumben gagal terpilih kembali dan kalah dari Arinal.

Tidak menutup kemungkinan di Pilgub 2024 ini hal serupa terjadi kembali. Berangkat dari pembacaan atas personal figur dan landscape pertarungan itulah, maka

bagi penulis, Jihan sudah beberapa langkah lebih unggul dibanding nama lainnya.

Jihan bukanlah Nunik. Meski berangkat dari mesin politik yang sama, tapi penulis memproyeksikan bahwa hasil elektoral yang didapatkan akan sangat berbeda. Dalam tulisan ini, penulis tidak ada kepentingan apapun dengan Jihan. Bagi penulis, untuk Pilgub 2024 ini, Jihan adalah aktor politik yang “menjual”. Di sisi lain, penulis tetap sadari bahwa proses kandidasi terjadi diruang-ruang tertutup melalui kompromi-kompromi antar para elit.

Meski sangat disayangkan sosok seperti Jihan dalam Pilgub 2024 ini hanya akan berakhir seperti “Bunga indah yang tak tersentuh”.

Penulis Opini:

Fitra Aditya Irsyam

Pegiat Isu Sosial Dan Politik

Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah tahun 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *